Indonesia Telecom News Aggregators™

Telkom Genjot Pendapatan di Lahan Interkoneksi

JAKARTA – Telkom mulai serius menggarap pengelolaan interkoneksi sebagai lahan pendapatan baru.

Divisi Carrier and Interconnection CIS Telkom selama ini hanya dikenal sebagai divisi yang mengelola interkoneksi, padahal sebenarnya Divisi CIS mengelola berbagai produk pada stream voice service, support facilities, leased capacity, satelite service, port connection, akses internet, dan IP transit.

Sekarang Divisi CIS tidak lagi hanya mengelola interkoneksi, namun melayani segala kebutuhan yang diperuntukkan bagi pelanggan segmentasi Other Licence Operator (OLO), serta menjadikan CIS sebagai single gateway pelayanan OLO.

Dijelaskan Vice Presiden Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, pada awalnya pengelolaan interkoneksi dilakukan oleh unit-unit di divisi regional. Dalam perjalanan menuju profesionalisme pengelolaan, Telkom membentuk pusat pelayanan interkoneksi pada tahun 2003 yang menjadi cikal bakal Divisi CIS saat ini.

“Interkoneksi pada awalnya hanya adalah sebuah layanan, namun fase oligopoli telah menghapuskan fase monopoli dan duopoli, sehingga tuntutan pelayanan interkoneksi mengharuskan Telkom mengelola bisnis tersebut secara lebih profesional,” ujar Eddy Kurnia dalam keterangannya, Senin (14/9/2009).

Edy menambahkan, pengelolaan interkoneksi secara khusus dan bisnis intercarrier secara umum menjadi agenda penting karena bisnis intercarrier menjadi stream pendapatan baru yang signifikan.
Selain itu, pengelolaan ini menjadi tuntutan dari aturan pemerintah yang sifatnya mandatori untuk memajukan skema bisnis telekomunikasi di Indonesia.

Upaya Telkom mengelola interkoneksi melalui Divisi CIS kepada para operator telekomunikasi di Indonesia telah dibuktikan lewat sertifikat sistem Manajeman Mutu ISO 9001:2008 dari TUV Rheinland International.

“Sertifikat ISO 9001:2008  membuktikan layanan Telkom, khususnya Divisi Carrier and Interconnection, berstandar internasional,” ujar Vice Presiden Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia.

“Sertifikasi bukanlah tujuan akhir Divisi CIS, tetapi lebih jauh adalah ujian komitmen untuk memastikan proses bisnis yang dibangun menjadi lebih efektif,” ujar Eddy.

source : http://www.okezone.com

Filed under: Telco

Huawei Tersandung Kasus Intelijen di Negeri Kangguru

huaweiMelbourne – Di Negeri Kangguru, vendor teknologi telekomunikasi Huawei tersandung kasus intelijen. Perusahaan China itu dituding memiliki keterkaitan erat dengan kekuatan militer China, People’s Liberation Army.

Tudingan itu diberitakan di Bloomberg dengan menyitir koran lokal The Australian yang mengaku mendapatkan kabar itu dari sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya. Konon, organisasi intelijen Australian Security Intelligence Organization sedang menyelidiki tudingan tersebut.

Seperti dikutip detikINET dari Bloomberg, Kamis (10/9/2009), Huawei secara tegas menolak tudingan tersebut. Hubungan antara pekerja Huawei dengan staff kedutaan China di Australia disebut sebagai hal yang wajar.

Ini bukan pertamakalinya Huawei tersandung soal intelijen dan keterlibatan dengan pihak militer. Perusahaan yang didirikan oleh mantan pejabat militer China itu sebelumnya mengalami hal serupa di Amerika Serikat, Inggris dan India.

source : http://www.detik.com

Filed under: Telco

XL Batal Jual 7000 Menara

xlJakarta – Excelcomindo Pratama (XL) akhirnya memutuskan untuk membatalkan penjualan 7000 unit menara telekomunikasi miliknya.

“Setelah kami melakukan pengkajian, akhirnya rencana penjualan menara kami putuskan batal,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kepada detikINET, Senin (14/9/2009).

Dari hasil kajian yang dilakukan secara internal, XL menilai biaya operasional yang akan dikeluarkan untuk menyewa kembali jika jadi menjual menara, bakal jauh lebih tinggi dibanding merawat menara sendiri. “Jika kami masih memiliki menara sendiri, malah bisa kita sewakan lagi kepada operator lain,” jelasnya.

Dari 7000 menara yang dimiliki, XL telah menyewakan sekitar 4000 unit menaranya kepada empat operator, yakni Bakrie Telecom, Natrindo Telepon Seluler, Hutchison CP Telecom Indonesia, dan Sampoerna Telecom Indonesia. Sementara sisanya, digunakan XL sebagai infrastruktur untuk menopang 18.000 unit base transceiver station (BTS) miliknya.

Menurut Hasnul, dari hasil penyewaan menara kepada empat operator tersebut, XL tahun lalu memperoleh dana sebesar US$ 270 juta.

XL sebelumnya berencana menjual seluruh menaranya pada tahun ini untuk membayar sebagian hutang perseroan sekaligus untuk menambah biaya modal. Meski satu calon pemenang sudah dikantongi, namun rencana penjualan terus tertunda karena situasi makro ekonomi yang tidak mendukung. Akhirnya sampai pada suatu putusan, XL batal menjual menaranya.

Source : http://www.detik.com

Filed under: Telco

50 Operator Nirkabel Bermigrasi ke IP

Jakarta – Operator layanan bergerak di seluruh dunia membawa jaringan mereka ke era Internet Protocol (IP) bersama Nokia Siemens Networks. Dengan demikian, Nokia Siemens Networks kini menjadi pemimpin pasar dalam jaringan IP mobile backhaul.

Sebanyak 50 operator layanan bergerak telah membuktikan bahwa transisi menuju jaringan IP dapat dilakukan dengan cepat dan hemat biaya hanya dengan melakukan upgrade software, tanpa perlu tambahan hardware eksternal dan ruang pada situs BTS.

Dengan pertumbuhan trafik data bergerak yang cepat di seluruh dunia, dipicu oleh teknologi HSPA+ dan perlunya menurunkan biaya, operator layanan bergerak harus mencari cara-cara baru yang hemat biaya untuk mengelola pertumbuhan data dalam jaringan transport. IP/Ethernet mobile backhaul dapat memberikan solusi yang lebih skalabel dengan biaya kurang dari separuh biaya backhaul berbasis TDM. Solusi ini juga menawarkan jalur evolusi yang mulus ke Long-Term Evolution (LTE).

“Migrasi transport dimulai di BTS,” kata Markus Borchert, Head of Sales for Radio Access, Nokia Siemens Networks, pada keterangan pers yang VIVAnews kutip, 11 September 2009. “Kami telah menyediakan BTS yang mendukung IP bagi lebih dari 130 operator dan saat ini banyak dari operator tersebut meminta kami memindahkan jaringan transport mereka ke IP sebagai langkah awal menuju LTE. Kami memiliki solusi jaringan transport yang terintegrasi dalam BTS dan dapat melakukan migrasi ini hanya dengan upgrade software,” ucapnya.

Sebagian dari migrasi ke IP tersebut, Nokia Siemens Networks telah menghadirkan solusi Timing over Packet berbasis standar IEEE 1588-2008 di lebih dari 13 jaringan aktif di seluruh dunia. Solusi ini memberikan sinkronisasi jaringan yang diperlukan menuju BTS dan mengeliminir alternatif-alternatif lain yang mahal.

Nokia Siemens Networks juga telah menjadi perintis dalam teknologi Timing over Packet, dengan mulai menggarap teknologi ini pada 2006 dan menyelesaikan uji coba pertama dalam jaringan aktif pada awal 2007. Pada September 2008, Nokia Siemens Networks menjadi vendor pertama yang secara terbuka mendemonstrasikan IEEE 1588-2008 dalam lingkungan 3G aktif, dengan produk-produk komersial dalam jaringan multi-vendor.

Source :  www.vivanews.com

Filed under: Telco

6 Vendor Kolaborasi Kembangkan Jaringan IP

Jakarta – Alcatel-Lucent, Ericsson, Fujitsu, NEC Corporation, Nokia Siemens Networks dan NTT Docomo, Inc. mengumumkan kerjasama pengembangan yang mereka lakukan. Selain itu, keenam vendor telekomunikasi tersebut juga telah berhasilan melakukan ujicoba spesifikasi teknis bersama untuk layanan jaringan IP Multimedia Subsistem (IMS) bernilai tambah.

Spesifikasi baru yang dibuat tersebut akan memudahkan para operator telekomunikasi dan vendor untuk mengembangkan fungsi-fungsi jaringan bernilai tambah. Para operator yang telah mengadopsi IMS dapat menambahkan fungsi-fungsi ini dalam jaringan yang ada dan mewujudkan layanan-layanan baru.

Dengan layanan baru tersebut, misalnya, seorang pengguna dapat mengedit gambar dalam jaringan dan mendistribusikannya atau mengubah teks bahasa Jepang ke dalam bahasa Inggris sebelum mengirimnya ke penerima.

Alcatel-Lucent, Ericsson, Fujitsu, NEC, NSN dan Docomo berkolaborasi untuk membangun sebuah sistem jaringan berbasis spesifikasi-spesifikasi baru tersebut dan kemudian sukses melakukan sebuah demonstrasi pada Agustus lalu.

Keenam perusahaan, seperti VIVAnews kutip dari keterangan pers resminya, 13 September 2009, berkomitmen untuk mengimplementasikan spesifikasi-spesifikasi tersebut dalam proyek Rich Communication Suite (RCS).

Upaya kerjasama ini disupervisi oleh Global System for Mobile Communications Association (Asosiasi GSM) yang berupaya merintis jalan untuk memperkenalkan layanan-layanan komunikasi kaya berbasis IMS komersial dalam jaringan bergerak dan, nantinya, dalam jaringan tetap.

Source : http://www.vivanews.com

Filed under: Telco

Internet Sehat dan Aman Tiba di Bandung

Bandung – Setelah peluncuran ‘Internet Sehat Aman Mobi’ di Jakarta pada 28 Agustus 2009 silam, kini PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) menghadirkan program tersebut di Bandung.

Hadirnya ‘Internet sehat Aman Mobi’ merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial dari Mobile-8 untuk mendukung program ‘Internet Sehat Aman (Insan)’ yang digelar Depkominfo, 23 Januari lalu.

Insan bertujuan memberikan manfaat yang sangat besar bagi para orang tua, guru dan pendidik, khususnya dalam pengawasan alur informasi yang akan diterima oleh anak melalui internet. Insan juga bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada generasi muda terhadap konten negatif dari dunia internet sekaligus melakukan penetrasi terhadap tumbuhnya konten-kontan lokal yang positif.

“Program ini adalah dukungan nyata terhadap program Insan. Ke depan, kami berharap akan semakin banyak melibatkan pihak-pihak terkait seperti penyedia konten, distributor peralatan komputer, institusi pendididikan dan masyarakat secara luas, yang semuanya bertujuan membentuk karakter generasi muda yang bertanggung jawab,” kata Budi Amiruddin, Region Head of West Java, PT Mobile-8 Telecom Tbk, pada keterangan pers yang VIVAnews kutip, 13 September 2009.

Inisiasi peluncuran Internet Sehat Aman Mobi ini dilandasi oleh perkembangan internet yang cukup agresif di Indonesia yang juga diikuti oleh perkembangan konten-konten negatif yang sangat cepat. Saat ini, setiap detik 28.258 pengguna internet melihat situs pornografi. Sementara itu, keyword “Sex” merupakan kata yang paling banyak dicari diinternet. Kini diperkirakan ada 372 juta halaman website pornografi dan semua dapat diakses dengan mudah oleh pengguna akses internet dari semua kalangan usia.

“Kami percaya dengan memblocking situs tertentu tidak akan menurunkan minat konsumen untuk menggunakan produk ini, karena kami juga memberikan penawaran unlimited internet dengan bonus 50% untuk pengisian hingga 5 kali,” ucap Budi.

Dengan menggunakan layanan ‘Internet Sehat Aman Mobi’ yang berupa modem dari Mobile-8, pengguna secara otomatis tidak dapat mengakses situs pornografi. Adapun pemblokiran selanjutnya akan berkembang untuk konten-konten negatif seperti pelanggaran kesusilaan, perjudian, SARA, kekerasan dan sebagainya, termasuk pelanggaran privasi, perendahan martabat dan pelecehan seksual.

Budi menambahkan, menciptakan Internet yang sehat dan aman untuk generasi muda bukan tanggung jawab orang tua dan para pendidik semata. Ini adalah tugas besar untuk semua pihak, begitu juga tanggung jawab sebagai perusahaan yang secara langsung maupun tak langsung menawarkan ‘media’ untuk melakukan akses ke dunia maya. “Merupakan sebuah kewajiban bagi kami untuk mendukung program pemerintah untuk melindungi generasi muda dari efek berbahaya dan merusak yang ditimbulkan oleh konten negatif tersebut,” ucap Budi.

Source : http://www.vivanews.com

Filed under: Telco

XL dan Axis Nafsu Miliki Lisensi SLI

Jakarta – Dua operator Indonesia yang sahamnya juga dimiliki Malaysia, Excelcomindo Pratama (XL) dan Natrindo Telepon Seluler (Axis), ternyata ngebet untuk mendapatkan lisensi sambungan langsung internasional (SLI).

Hal itu diungkapkan Sekjen Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar, usai acara public expo Depkominfo di gedung Depkominfo, Jakarta, Selasa (8/9/2009) malam.

“Kami telah menerima permohonan tertulis dari kedua operator ini untuk mendapatkan SLI dan akan mempelajarinya segera,” ujar Basuki Yusuf Iskandar.

Namun, pemerintah belum juga menetapkan jadwal untuk mengevaluasi permohonan lisensi untuk sambungan internasional dengan teknologi clear channel tersebut. Basuki menilai peluang kedua operator ini untuk mendapatkan lisensi SLI masih cukup terbuka.

“Asalkan keduanya bisa membangun, paling minim seperti yang kami wajibkan kepada Bakrie Telecom,” tandas Basuki.

Btel merupakan pemenang lisensi SLI dalam tender yang digelar pemerintah dua tahun lalu berdasarkan Keputusan Menkominfo No. 415/2007. Kehadiran Btel sebagai pemain baru SLI sekaligus mengakhiri duopoli SLI yang selama ini dikuasai Telkom dan Indosat.

SLI memang cukup menjanjikan pada 2009 ini. Potensi pasar dari jasa SLI diperkirakan berkisar Rp 3 triliun. Uang sebanyak itu akan berasal dari jumlah panggilan yang mencapai tiga miliar menit per tahun. Komposisi panggilan sendiri 70 persen ke luar negeri (outgoing) dan 30 persen panggilan dari luar negeri.

source : http://www.okezone.com

Filed under: Telco

Kapasitas 3G Indosat Ditambah

Jakarta- PT Indosat Tbk (Indosat) akhirnya mendapatkan tambahan frekuensi 3G untuk jaringan bergerak selularnya. Dengan demikian, kapasitas layanan 3G Indosat kepada pelanggan akan bertambah seiring tingginya kebutuhan akses data yang tinggi dewasa ini.

Hal tersebut ditandai dengan keluarnya Keputusan Menteri Kominfo no. 268/KEP/M.KOMINFO/9/2009. Dalam Kepmen tersebut, ditetapkan alokasi tambahaan blok pita frekuensi radio bagi penyelenggara jaringan bergerak seluler IMT 2000, pada pita frekuensi 2.1 GHz untuk Indosat pada rentang frekuensi 1955-1960 MHz berpasangan dengan 2145-2150 MHz. Dengan demikian, frekuensi 3G yang dikendalikan Indosat totalnya kini berjumlah 10MHz.

Tentu perolehan ini disambut gembira oleh Indosat mengingat pertumbuhan pengguna layanan 3G belakangan ini tumbuh signifikan.

“Tambahan frekuensi 3G yang telah diberikan pemerintah akan kami gunakan untuk meningkatkan kapasitas layanan 3G kepada pelanggan serta menjawab kebutuhan pasar broadband yang terus tumbuh secara signifikan,” kata Harry Sasongko, President Director & CEO Indosat pada keterangan pers yang VIVAnews kutip 9 September 2009.

Sebelumnya, sesuai dengan mekanisme yang ditawarkan pemerintah beberapa waktu lalu, Indosat menyatakan minatnya untuk menambah alokasi frekuensi 3G (second carrier) dan telah mengirimkan surat tanggapan atas penawaran dari pemerintah dengan harga sesuai dengan yang ditawarkan pemerintah.

Hingga saat ini layanan 3.5G Indosat telah dapat dinikmati 26 kota, yakni Jabodetabek, Banda Aceh, Medan, Batam, Palembang, Bandung, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Cilacap, Cepu, Salatiga, Kudus, Jepara, Magelang, Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Denpasar, Balikpapan, Samarinda, Banjarmasin, Makassar.

“Tambahan frekuensi 3G ini akan memberi keleluasaan bagi kami untuk meningkatkan kapasitas di kota-kota tersebut sekaligus memperluas cakupan layanan 3.5G di daerah lain di seluruh Indonesia,” ucap Harry.

source : http://www.vivanews.com

Filed under: Telco

Huawei Konvergensi Jaringan dengan SingleRAN

Jakarta- Huawei Technologies Co., Ltd., salah satu pemain dalam penyediaan solusi jaringan telekomunikasi generasi mendatang bagi operator di seluruh dunia, menawarkan solusi SingleRAN.

Dengan BTS generasi keempat sebagai komponen utamanya, solusi ini mendukung suatu konvergensi total bagi operator-operator jaringan di Indonesia.

“Ada tiga keunikan yang menjadi kelebihan dari SingleRAN Huawei,” kata Dani K. Ristandi, Deputy Director of Technical Sales Division Huawei, pada keterangan pers yang VIVAnews kutip, 7 September 2009.

“Pertama, fleksibilitas dalam evolusi teknologi dengan menerapkan platform bersama yang multi-mode dan juga teknologi SDR (software defined radio). Kedua, penghematan di sisi total biaya kepemilikan (TCO) dengan penggelaran yang efisien dan penghematan biaya operasional (OPEX) jangka panjang. Ketiga, peningkatan kinerja dengan mengoptimalkan kolaborasi antara teknologi yang ada sekarang dan teknologi generasi yang akan datang,” ucap Dani.

SingleRAN mempermudah pemilihan teknologi dan solusi jaringan, yang secara signifikan dapat mengurangi akses ke lokasi, pembangunan gedung peralatan, transmisi dan biaya tambahan lainnya yang termasuk di dalam biaya operasional.

Solusi SingleRAN Huawei memungkinkan operator mencapai konvergensi penuh dari jaringan nirkabel multi-mode, termasuk base station, base station controller, sites serta manajemen operasional dan pemeliharaan.

Sebagai komponen utama dari solusi SingleRAN Huawei, BTS generasi keempat mendukung jaringan akses radio multi-mode (GSM, TD-SCDMA, UMTS, LTE, CDMA dan WiMAX) dan menggabungkan green optimization dan teknologi ALL-IP. BTS generasi keempat dari Huawei telah digunakan oleh lebih dari 20 operator terkemuka di 100 negara.

Pada bulan Maret 2008, Telefonica/O2 menunjuk Huawei untuk ekspansi dan upgrade jaringan mobile di Jerman dan Huawei telah membantu dalam penggantian base station yang ada serta peerencanaan penggelaran lebih dari 8.000 BTS generasi keempat.

Pada bulan Agustus 2008, T-Mobile menggunakan hampir 4.500 BTS generasi keempat dari Huawei untuk meremajakan jaringan 2G yang ada di Republik Czech.

Huawei telah mengirimkan lebih dari 1,5 juta transceiver (TRX) untuk base station generasi keempatnya – lebih banyak dari perusahaan manapun di dunia. Prestasi yang siginifikan ini dicapai setahun lebih awal dari yang diperkirakan, menunjukkan besarnya permintaan terhadap solusi jaringan nirkabel generasi keempat yang inovatif ini.

source : http://www.vivanews.com

Filed under: Telco

NTS Kaji Gabung Palapa Ring

Jakarta – PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) selaku penyedia layanan seluler AXIS tidak menutup kemungkinan untuk ikut serta dalam konsorsium Palapa Ring. Mereka masih mengkaji kemungkinan tersebut.

Dikatakan oleh Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, perusahaan mereka selalu tertarik untuk membangun infrastruktur, terutama yang mendukung kegiatan operasional mereka.

“Untuk pembangunan infrastruktur, kami telah menyiapkan USD 1,6 miliar untuk investasi. Terlebih sebagai pemain baru, AXIS senantiasa membuka pintu untuk membangun infrastruktur bersama dengan operator lain,” ujar Saud di sela acara penghargaan rekor MURI untuk Axis di Menara DEA, Jakarta, Rabu (27/5/2009).

Ketika disodorkan mengenai ketertarikannya soal Palapa Ring, menurutnya kemungkinan itu bisa saja, tapi mereka harus mengkaji terlebih dahulu proyek itu.

Palapa Ring sendiri saat ini baru saja kehilangan lagi anggotanya, yakni XL. Jadi tinggal tersisa tiga anggota, yakni PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, dan PT Bakrie Telecom Tbk.

Sementara itu Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar, menyatakan perusahaan manapun boleh bergabung dengan konsorsium Palapa Ring.

source : http://www.detik.com

Filed under: Telco

Yahoo

Blog Stats

  • 10,100 hits

Indotelconews Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Calender

October 2014
M T W T F S S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.